Mataku Sayang

"Jadi, teknologi itu berkat atau kutuk, ya?"

Wah.. ini pertanyaan dilematis. Tanpa teknologi, kita akan kesulitan melakukan banyak hal. Apalagi bagi yang sudah terlanjur mengandalkan teknologi. Misalnya saja, ya kita kita ini. Kecuali orangtua kita, atau orang-orang yang tidak begitu tergantung pada teknologi karena mereka menyelesaikan banyak hal dengan teknologi secukupnya saja. Sedangkan, kita yang mengandalkan teknologi, (kadang mengandalkan dan keranjingan beda-beda tipis ya? :p) dengan teknologi, kita jangan hanya merasa nyaman dan canggih saja. Kitapun mesti waspada dengan dampak buruknya.

Kita memang tidak bisa memilih atau menyamaratakan, bahwa suatu kemajuan teknologi adalah berkat atau justru masalah. Gimana orang yang menggunakannya juga, ya. Seperti yang kita rasakan, teknologi banyak mendatangkan keuntungan. Kecepatan proses kerja, meringankan beban fisik, dan pada akhirnya kemudahan pekerjaan (meskipun bukan berarti beban pekerjaan itu berkurang. Biasanya justru bertambah, karena semakin banyak peluang tercipta, semakin besar hasrat manusia memperoleh keuntungan demi keuntungan. Apalagi kalau sudah menyangkut uang. hehe..)

Namun kita tak boleh melupakan dampak lain dari pemanfaatan kemajuan teknologi, yakni masalah. Masalah itu bukan cuma soal ketidakdewasaan    seperti kekhawatiran pemerintah yang pernah ada mengenai konten porno (masih inget, kan? Nah, iya.. Itu gimana orangnya memanfaatkan teknologi. Sudah masuk persoalan moral).

Ada juga faktor lain, seperti yang saya bayangkan kali ini: faktor kesehatan. Mungkin sepertinya ini persoalan simpel...

Sebentar. Kita semua tahu, teknologi bukan hanya seputar gadget, android, laptop dan sejenisnya, ya. Namun yang ingin saya angkat di sini memang berkaitan dengan itu tadi...

Faktor kesehatan mata.
Mungkin banyak sekali pengguna gadget yang lupa, atau masih menganggap sepele, bagaimana penggunaan produk-produk tadi mempengaruhi kesehatan mata kita. Sedangkan kita tahu, mata adalah aset.

Well, entah disadari atau tidak, menyesal belakangan memang ngga guna. Siapa sih yang mau menjual matanya untuk kita? Kalau toh ada, apa iya langsung bisa? Seandainyapun iya, apa iya kita sanggup membayar? Mata adalah andalan manusia, sepeti halnya indera lainnya.

Saya belum tahu jika memang sudah ada surveynya. Tapi dugaan saya, seiring penggunaan gadget yang kian marak, keluhan pada mata juga bertambah. Karena efek radiasi, ditambah efek ketergantungan bagi sebagian orang. Ditambah lagi, efek pekerjaan yang mengandalkan teknologi ini, semakin menyita perhatian dan waktu kita. Dikit dikit buka messenger. Dikit dikit notifikasi. Buka email. Dan seterusnya.

(Maka perusahaan yang menggunakan gadget sebagai alat komunikasi seharusnya menganjurkan pegawainya memeriksakan kesehatan mata. Kalaupun menggunakan BPJS Ketenagakerjaan, perusahaan sebaiknya tetap mengeluarkan himbauan dan membantu dalam hal prosedur. Tidak cukup sekedar kalimat formalitas.)

Sekali lagi, mata adalah aset, sebagaimana bagian tubuh kita yang lain. Ketika penggunaan teknologi    dalam hal ini gadget dan sejenisnya    mulai menunjukkan masalah, berhentilah sejenak! Jangan terus memforsir fisik, apalagi hanya karena ambisi atau rasa penasaran yang tersisa. Yang udah mulai keasikan akses socmed, jangan lupa, ya... di-off dulu! ;-) Lebih baik melakukan aktivitas lain untuk menetralisir. Istirahat, tidur, atau kalau bisa, pergi ke tempat luas seharian (bahkan kalau bisa terjadwal), di mana ada sawah hijau yang sangaat luas, atau mungkin ke pantai? Saya sih lebih rekomen lihat sawah luas banget. Seperti di Bali, atau Sukabumi - Jawa Barat. :-) Sayangnya, di Jakarta sudah ngga ada sawah. Jakarta makin sesak. Jarak pandang makin pendek. Kacamata retro justru makin digemari. (Well, no problem sih, asal bukannya berarti OK punya mata minus hehehe..)

Image dipinjam dari sini!


Tulisan ini diposkan untuk campaign Raditya Dika's #BloggerDreamTeam. Cek info lengkapnya melalui twitter.

Comments

  1. betul juga hampir semua kantor pakai komputer bukan kantor yg berhubungan dg IT saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak Tira. Bahkan rumah rumah sekarang pun mengadakan komputer jadi perabotan penting. :-)

      Delete
  2. gak bisa bayangin kedepannya jadi bagaimana dunia ini. orang - orang pada tak bisa hidup tanpa gadget, bangun tidur yang dicari adalah gadgetnya, ke kamar mandi bawa gadget. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. Betul banget! Rasanya bukan cuma tren sesaat ya, karena gadget aja berkembang terus. :))

      Delete
  3. Mbaa.. Aku kira campaign raditya dika ini kudu pake bahasa inggris, ngga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya si ngga ya, Mba.. Karena pilihan temanya pun bahasa Indonesia :D

      Delete
  4. menurutku, teknologi itu bagaikan pisau bermata 2. di satu sisi bisa membantu pekerjaan, di sisi yang lain juga bisa berbahaya bagi penggunanya. semua itu akhirnya kembali pada penggunanya. kalau saya sih mulai membiasakan dalam seminggu, sedikitnya 1 hari penuh tanpa internet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, thanks tipsnya! Bagus, tuh. Tiap minggu ambil waktu seharian bebas gadget, kompie n tv. :)

      Delete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular posts from this blog

Cara Membuat Blog SEO Friendly

[Parenting] Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi dan Bagaimana Menyikapinya

Review Film: LION