Review Film: Cek Toko Sebelah


Haaii... Udah pada nonton film Cek Toko Sebelah, belum? Film yang tayang 28 Desember kemarin. Dan puji Tuhan, di bioskop favorit saya film ini tayang pas hari pertama. Hehe.. "bioskop desa" alias bioskopnya orang pinggiran. Di mal perumahan Cinere, yang ngga terpengaruh hiruk pikuk dunia. Tapi bukan berarti minim fasilitas, lho. Bioskop 21 ini tetap bagus, makanya gue enjoy ke sana pakai sendal jepit, kayak mau main ke rumah temen aja. Asiknya, main ke sana ngga perlu akses yang ribet kayak mesti bermacet-macet atau lewat jalan layang dll. :D

OK, balik ke film Cek Toko Sebelah (CTS). Film garapan Ernest Prakasa, sineas muda yang baru merilis 2 film. Yup, sebelumnya Ernest sudah merilis Ngenest tahun 2015. (hehe.. resolusinya setahun satu film, kali ya? Keren..) In my opinion, film ini cukup lumayan. Bagus sih, sebenarnya. Karena latar belakangnya yang mengangkat budaya sebagian besar etnis China dalam mengelola toko sembako mereka. Kebayang gimana penggagasnya jeli melihat masalah yang bisa diangkat jadi sebuah film.

Mungkin yang membuat film terasa kurang itu chemistry antara tokoh Erwin (yang diperankan Ernest sendiri) dan kekasihnya (diperankan Giselle Anastasia). Sayang banget. Galaknya, atau katakanlah emosi keduanya ngga terasa waktu harus berdebat berantem; baik antara Erwin dengan Yohan abangnya, atau Erwin dengan pacarnya waktu berselisih paham.

Sedangkan yang karakternya paling kuat, paling pas di sini menurut saya adalah peran ayahnya (diperankan Chew Kin Wah) dan Yohan, kakak dari Erwin. Peran Yohan dimainkan oleh Dion Wiyoko. Sisanya sih humor-humor lucu yang menghibur banget, yang bikin saya bisa sejenak melupakan kekurangan tadi. Mungkin faktor ini yang justru cukup banyak makan tempat atau perhatian penonton, ya?

Lalu, alur cerita yang saya harap dari awal bakalan cerita, "Gini loh, Penonton.." agak ketutup. Maksudnya, sisi dramanya jadi kalah banyak oleh humor. Ya, saya memang bukan ahli, tapi di sini saya kan konsumen. Yang saya harap film ini bercerita, ternyata kurang dapet feel-nya buat saya. ;-)

Mungkin memang gitu, ya.. Jadi, genre drama komedi, mestinya yang mana nih, yang harusnya dinomorsatukan? Bukan berarti saya tidak suka humor-humornya. Tapi saya merasa kehilangan unsur dramanya yang harusnya lebih membuai. Entah karena pemenggalan ceritanya saat take juga kurang pas, masih perlu nonton lagi, sih. Simply, memang sepertinya sulit untuk menghidupkan semuanya; faktor humor dan drama sama rata.

Tingkah aneh bin lucu yang diharapkan bakal melekat di kepala sih, nomor dualah, ya. Bukannya ngga penting. Tapi jangan terlalu takut ngga lucu kalau memang sudah tahu bakalan lucu. Maksudnya, bukannya saya justru jadi merasa film CTS seperti kehilangan 'something' entah itu kekaguman pada tokoh utamanya, ataupun euphoria yang bikin pengen nonton lagi karena merasa 'Wow'.

Kehilangan nyawa? Maybe. Sederhananya sih, saya ngga merasa begitu menikmati. Beda ya, 'memahami cerita' dengan 'menikmati cerita'. Ibarat kita makan. Sebelum gigitan pertama kita sudah punya ekspektasi level rasa tertentu. Tapi kenyataannya kurang.

After all, film ini Bagus, lah.. Emangnya gampang bikin film? Mulai dari nyusun cerita sampai ngarahinnya actingnya, sekaligus jadi actornya? Hehe.. Well, gue sih percaya, Ernest dan tim sebenarnya bisa membuat film ini lebih menarik lagi. Hopefully film-film berikutnya makin ciamik.

Well, di twitter saya sempat cuap-cuap sedikit sih, bahwa film Cek Toko Sebelah ini bagus. Ya, tetap ada bagusnya, koq. Bukan demi dimensyen balik. Haha! Lagian, agak ngga tega kalau baru nonton trus nyela. Ngga elok. Tapi di blog ini saya juga mencoba jujur. Iyalah.. Jangan takut sama kritik. Saya kan ngga kasar atau berniat jahat. Hanya mengemukakan pendapat sebagai konsumen. Siapa tahu komentar saya ini bisa jadi bahan evaluasi, besok-besok. :)

Comments

  1. Wah isu etnis. Aku belum nonton, sih, tapi kalau dari ulasan di atas aku setuju. Mesti seimbang antara pesan yang ingin disampaikan dengan komedinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Wi.. saya rasa sayang kalo setting budaya yg klasik gitu cuma buat nonjolin humor aja. :)

      Delete
  2. AKu penasaran sama aktingnya gisella Mbak :) belum nonton uhuksss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nonton aja, Mbak Wahyu.. Moral of the story-nya bagus juga koq :)

      Delete
  3. Aku baru nonton tadi malam!!! Suka banget!!!! Beyond my expectation. Kirain bakal cuma komedi gitu aja, taunya pesan moralnya banyak. Dan cara ngemas komedinya aku suka banget, ga vulgar dan ngebully kaya lawakan-lawakan kebanyakan saat ini.
    Baru mau ngulas di blog minggu ini, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, beda ya sama sayah.. hehe pengen baca ulasannya ah, nanti! :)

      Delete
  4. Belum pernah nonton,
    Jadi pengen nonton, sepertinya seru...

    ReplyDelete
  5. Kalo aku pengen liat Kaesang, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha! Iya tuh, Kaesang boleh banget adu acting sama Dion! :D

      Delete
  6. Belum punya waktu buat nonton. Sepertinya sayang untuk dilewatkan. Sekarang nyari kroni siapa yang mau di ajak nonton.

    ReplyDelete
  7. Aku blm nonton tapi pasti nonton di layar SCTV aja bulan depan hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular posts from this blog

Cara Membuat Blog SEO Friendly

[Parenting] Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi dan Bagaimana Menyikapinya

Review Film: LION