Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude) - Film Review

Istirahatlah kata-kata, judul dari sebuah film yang mengangkat sepenggal kisah Wiji Thukul, seorang penyair demonstran, yang akhirnya menjadi pelarian, karena tulisan-tulisannya dianggap berbahaya di oleh rezim Suharto, saat itu.

Trailer-nya saja di youtube sudah berhasil menggugah semangat saya buat nonton. Pertama, yang membuat saya suka itu suasana latar yang sunyi, benar-benar hening. Benar-benar 'Solo, Solitude'. Namun bukan lantaran saya menghubungkannya dengan kesukaan saya being alone, me-time atau semacamnya. Hehehe.. Kesendirian yang dimaksud itu suasana yang mencekam hati, membuat selalu berhati-hati kalau bukan curiga kepada orang lain. Karena biar bagaimanapun, ke manapun ia pergi pasti harus berurusan dengan individu lain.

Perginya Wiji Thukul ke Pontianak memang dalam rangka bersembunyi mengaburkan identitasnya. Film Istirahatlah Kata-Kata memberikan sedikit saja gambaran buat kita tahu, bagaimana luntang-lantungnya Wiji Thukul sebelum akhirnya ikut demonstrasi di Jakarta, lalu dinyatakan benar-benar hilang sampai sekarang...

Di trailer kita memang ngga menemukan sedikitpun adegan seram seperti penangkapan buron, selain suasana sunyi sepi. Saya suka dengan view desa yang masih asli, khas kota di daerah selain Jakarta. Pontianak memang sepertinya kota tempat persembunyian yang tepat. Sepertinya ramai tapi terpencil. Dan pokoknya film itu membidik penampakan jaman itu banget, yaitu sekitar tahun 1998.

Dengan percakapan khas melayu, pertemanan dengan penduduk yang menjadi teman Wiji Thukul sesama aktifis demonstran, lalu scene yang kadang menangkap suasana kota lamanya. Tapi Itu karena saya suka memanjakan mata saja. Yang bikin film ini terasa penting ditonton itu tentu secara keseluruhan, termasuk dialog dan kalimat-kalimat Wiji yang bermakna puisi gelap.

Dengan kemasan sedemikian rupa, film Istirahatlah Kata-Kata ternyata menarik, baik sebagai gambaran kisah nyata Wiji Thukul maupun cerita yang sederhana namun bermakna. Jadi memang jangan berharap drama yang ngepop saat mau nonton film ini. Berharaplah untuk tahu, untuk bisa menaruh empati. Masalah orang hilang bukan hanya dialami Wiji Thukul dan keluarganya. Masih banyak orang yang mengalami nasib seperti Wiji Thukul.



Kabarnya, tiket film Istirahatlah Kata-Kata ternyata laris manis, lho! Sampai bioskopnya ditambah. Jadi, daripada nunggu filmnya di televisi atau DVD, kalau sempat mendingan nonton sih, menurut saya. Ya, kalau filmnya bagus, enak juga nonton langsung, dengan layar besar dan sound system yang memberi efek lebih dramatis. Trus, kalau dateng jangan mepet jam tayang. Minimal banget sampai di loket 1 jam sebelum jam tayang. Soalnya antri beli tiketnya. Biar dapet posisi seat yang ideal, Hehehe..

*Edited

Comments

  1. Wah penasaran, aku suka dengan puisinya yg heboh itu :)

    ReplyDelete
  2. waah..kayaknya film bagus ya...sayang kalau sampai ketingalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jumlah bioskop yg nayangin film ini ditambah, lho, Rul. Jangan sampai udahan dulu..

      Delete
  3. Syarat akan kisah masa lalu kayaknya, mbak.. Saya belum lihat triler apalagi filmnya, sih. Tapi sepertinya bakal menarik mengingat masih nggak jauh dari kisah pada rezim orde baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trailernya ada di postingan saya ini, Mbak Elisa.. hehe

      Delete
  4. wah! nanti nyoba nonton film ini deh

    ReplyDelete
  5. Hampir mirip film tragedi 98,, namun lebih ke personal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiji Thukul memang salahsatu demonstrannya menjelang Soeharto lengser.

      Delete
  6. Wah, film baru ini. Jadi penasaran..
    Nonton ah, kurang faham kalau cuma baca saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bener, Mas. Biar makin terasa suasananya.

      Delete
  7. Aku juga sudah nonton film ini. Makasih reviewnya kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. Udah bikin reviewnya juga, blom, Neng Miftah? :)

      Delete
  8. Dipontianak lagi tayang tapi aku blom sempet buat nonton. Sepertinya bagus deh

    ReplyDelete
  9. cuplikannya keren mbak, em.. puisinya juga menggoda, apalagi saya juga suka puisi. sayang kemarin pas dapat info, filmnya gak ada di Malang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, ngga main ya Mas, di Malang? Sayang kalo gitu

      Delete
  10. Iya..denger-denger film ini jauh dari ekspeksi bkata booming ya.. filmnya bagus. tapi saya sebagus apapun pelem bioskop yang ada layar bioskopnya yang nontonin saya tidur mulu, ngiahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.. ngga ada kopi sama balabala sih.. ya, Mba Yul? Adanya popcorn sama teh aja :D

      Delete
  11. Jadi pengen nonton. Buat list weekend ini ah.

    ReplyDelete
  12. Udah mupeng nonton, semenjak temenku yg jadi Directed Photography di film itu koar-koar dulu. >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. iya, bagus apalagi Mba Noni kan editor juga.

      Delete
  13. Cabcus liat filmnya, ah. Kan jd penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Plus jangan lupa review. hehe... *nyaingin kata orang2 sekarang: jangan lupa bahagia. :D

      Delete
  14. Jadi penasaran nih mbaak, segera diagendakaan :D
    Tfs review filmnya, salam kenal mbak :)

    ReplyDelete
  15. Zaman dulu memang menyeramkan ya. Kita tidak bisa sebebas ini dalam menyuarakan pendapat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Cuma yg sekarang ini, saking bebas jadi banyak yg kebablasan, Mba Rindang.. :|

      Delete
  16. kayanya film bagus nih, ajak suami nonton ahh, biasanya dia males nonton film Indonesia klo bukan yg beraroma sejarah, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow.. pemilih banget ya berarti. hehe..

      Delete
  17. Ngalamin juga tuuh....hidup di masa-masa dimana kebebasan pendapat belum seperti saat ini.

    Nonton aah...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Jadi inget ya, Mbak, dulu partai cuma ada 3, dan yg menang yg itu2 terus :D

      Delete
  18. Dear Mbak Murni,

    dari judul aku nggak mau baca :)
    karena ini film belum aku tonton. jadi aku adalah seorang kapiten mempunyai pedang panjang. hehehe.
    maksudnya, aku kurang suka baca review film. hihi. semacam spoiler.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk.. Bena ngga mau baca berarti bakalan nonton? :D

      Delete
  19. Wahh kayanya seru yah film ini.. Wiji Thukul emang seorang sastrawan yang melegenda, meski namanya seperti ilang..
    Film ini pertanda baik untuk mereka yang dibungkamm

    Jadi pengen nonton

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya ngga semua bioskop nayangin film ini. Padahal menarik lho, melihat minat orang Indonesia sama sastra ada peningkatan. Apalagi woro-woronya kan di socmed. hehe..
      Minimal kalo DVD-nya udah keluar nanti, aku juga mau beli.

      Delete
  20. Aku pengin nonton ini belum kesampaian jugaaaaa :(
    Masih ada gak sih di bioskop? Heu. Cek webnya ah.

    ReplyDelete
  21. Sebuah judul yang singkat namun memiliki banyak makna. Entah kenapa setiap mendengar kata Wiji Thukul, pikiran ini langsung terbang melayang kemana sosok ini berada. Sebuah tanda tanya besar yang mungkin bagi sebagian orang sudah terlupakan. Oh Wiji, inilah sebuah konsekuensi yang harus Engkau terima ketika Engkau tetap bertahan dan melawan kemunafikan.

    ReplyDelete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular posts from this blog

Cara Membuat Blog SEO Friendly

[Parenting] Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi dan Bagaimana Menyikapinya

Review Film: LION