Save Earth Planet! Dari Diet Plastik Sampai Inovasi Bioplastic

Produk bioplastic AVANI
Namanya Kevin Kumala. Saya mendengar sosok ini di radio Smart fm. Waktu itu Billy Boen, host acara Smart Young On Top menjadikannya narasumber.

Yang membuatnya inspiratif hingga menarik untuk saya tulis, ia berusaha keras menciptakan sesuatu karena keprihatinannya akan limbah plastik. Dari situ ia berhasil mengeluarkan berbagai disposable products dari bioplastic.

Sebagai pengganti bahan plastik; untuk kantong, gelas, sedotan, sendok, dll yang seba sekali pakai, minimal diharapkan akan mengurangi bertambahnya timbunan limbah plastik di Indonesia.

Kaget Pulang dari Luar Negeri

Perubahan yang mengherankan itu berawal dari ketika Kevin meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi kedokteran di luar negeri. Bali yang di matanya begitu indah, sekembalinya dari luar negeri tiba-tiba berubah jadi lautan sampah plastik!

Sebagai pencinta Bali tentu Kevin tidak terima begitu saja. Dan sebagai mahasiswa kala itu ia tentu paham betul dampak buruk limbah plastik. Bumi khususnya Bali akan makin kehilangan kesegarannya, dan kerusakan yang disebabkannya juga berdampak pada pemanasan global akibat sampah yang terurainya susah sekali itu.

Disposable Products Sudah Jadi Bagian Hidup

Apa mungkin kita meninggalkan segala kebiasaan itu dalam waktu singkat? Ngga ngopi di kafe yang pakai gelas sekali pakai? Demi nggak pakai sendok plastik, sedotan plastik, dll dsb yang sekali pakai, lalu kita bawa semua itu dalam tas? Atau yang paling sederhana, ngga bakalan pakai tas plastik yang cepat sekali sobek itu?

Sulit, bukan? Meskipun bukan mustahil.

Tujuan inovasi bioplastic adalah mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tadi. Peradaban yang sudah terlanjur berorientasi pada produktivitas juga nggak akan ter-delay karena fokus yang harus terbagi.

Well, itu sih masih berupa harapan, loh, teman-teman. Belum bisa dikatakan terealisasi juga, karena inovasinya sudah ada, produknya juga sudah bisa dibuat, tapi penggunaannya itu... Belum banyak perusahaan yang sadar bioplastic, dan bagi Kevin pemerintah juga belum melirik bioplastic sebagai salah satu SOLUSI. Entah kenapa ...

Mengelola Sampah Butuh Ketekunan

Kamu pernah dengar dong, istilah 3R "Reuse, reduce and Recycle"?

Pada kenyataannya, plastik tetap diproduksi terus. Iya, kan? Means, mana mungkin penyetopan sampah plastik terjadi kalau sampah plastik ada lagi dan lagi? Iya, kan?

Bioplastic diadakan sebagai R yang keempat, yaitu "Replace".

Jarang banget ada orang yang begitu tekunnya. Telaten memisahkan sampah terurai dan sampah tak terurai. Setelah terpisah, sampah tak terurai harus didaur ulang. Minimal semua orang tahu gimana cara menyalurkan ke pemulung. Lalu untuk sampah terurai, kalau masih mau ngurus berarti nyangkul tanah di halaman untuk mengubur supaya jadi kompos. Kalau ngga sempat setor ke petugas kebersihan tiap hari.

Kalau masih ada yang sempat... Wow!

Komunitas Bank Sampah - My Darling
Beberapa artis memang sudah memulai. Seperti Olga Lydia, dan Titi DJ, yang memisahkan sampah (termasuk bagaimana mengelola sampah obat-obatan yang tidak diminum atau digunakan, seperti tablet vitamin di rumah. Biasanya Titi menggunting semua itu supaya tidak disalahgunakan atau dijual).

Beberapa orang yang belum terkenal juga pastilah ada yang melakukannya. Seorang istri petugas kebersihan menggerakkan inisiatif Masyarakat Sadar Lingkungan yang ia beri nama My Darling. Hebat!

Namun, Kevin tetap bisa melihat fakta, bahwa mereka masih sedikit di antara sejumlah pengguna plastik di Indonesia. Sampah plastik di seluruh Indonesia (dan dunia) sudah terlanjur menggunung, yang menunjukkan bahwa  tidak mungkin mengharapkan perubahan dalam waktu begitu cepat. Sementara menurut data, pencemaran oleh sampah plastik di Indonesia memang sudah darurat. Indonesia nomor 2 yang terparah, setelah China.

Bioplastic? Sejenis makhlukkah, itu?

Saya juga jujur, baru tahu semacam bioplastic dari siaran di Smart fm itu. :D Jadi, dari materinya kita bisa bedakan antara plastic dan bioplastic. Begini...

Jika plastik biasa dibuat dari bahan minyak yang terurainya membutuhkan waktu ratusan tahun, bioplastic dibuat dari bahan nabati alias dari tumbuh-tumbuhan, yang sangat mudah terurai dalam beberapa bulan saja.

Beberapa bulan saja! Coba kita bayangkan, deh. Kantong atau sedotan sekali pakai yang kita buang di halaman rumah, bukannya akan mencemari tanah, malah akan menjadi kompos. Aman. Nggak beracun pulak. Biarpun digigit gigit kucing peliharaan juga aman.

Produk eco friendly yang Kevin dan teman-teman luncurkan menggunakan brand AVANI. Pembuatannya memanfaatkan bahan alami nabati, yaitu pati singkong, atau tebu, jagung, dan minyak sayur.

Partner

Produk-produk bioplastic keluaran AVANI sudah menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan dari dalam dan luar negeri. Di antaranya dari Amerika dan Afrika. Untuk market di dalam negeri sendiri, sudah ada beberapa perusahaan seperti restoran dan hotel di Bali, bahkan ada juga usaha rumah makan UKM di Bali.

Produknya di antaranya berupa tas alias kantong bioplastic, sendok, gelas, sedotan dan lain lain untuk sekali pakai. AVANI yang didirikan Kevin Kumala memang berbasis di Bali.

Dulu dan Sekarang, Evolusi Penggunaan Bahan Plastik

Dulu sebelum pasar tradisional tergeser arus modernisme, ibu atau bibik kita kalau ke pasar biasa membawa keranjang dari plastik yang kuat untuk dipakai berkali kali. Kalau bukan keranjang plastik, ada juga anyaman dari dari berbagai bahan tumbuhan seperti rotan, atau akar.

Jaman dulu wadah anyaman masih banyak di mana-mana dan murah. Sekarang sudah jarang. Dan sekarang kita mungkin tidak lagi menemukan itu sebagai tas atau wadah. Tetapi sebagai karya hiasan atau barang seni yang mahal.

Saya jadi mikir lagi. Hal-hal yang dulu ‘kurang praktis’ itu sebenarnya justru berarti banget buat mengurangi sampah plastik.

Kreneng, anyaman wadah dari Bali sudah punah. (dari Tatkala.co)

Dulu orang memanfaatkan plastik justru untuk barang keperluan seperti bangku plastik berbagai desain; kursi santai di rumah bertali-tali plastik yang kuat, gelas-gelas platik, dan keperluan rumah-tangga lain yang cukup berhargalah! Rusakpun diupayakan perbaikan dulu. Sekarang, produksi barang dari plastik dan pembuangannya tidak seimbang dengan kesanggupan alam mengolah sampah plastik, sehingga terjadi ketidakseimbangan.

Sekadar mengingatkan lagi akan dampak sampah plastik...

... Kita sebelumnya mungkin sudah akrab dengan saran untuk membawa tas dari kain yang lebih awet  setiap belanja. Agar bisa digunakan berulang-ulang. Ketimbang menggunakan kantong plastik yang cuma dipakai sekali dua kali.

Well, saya bukan buzzer AVANI. Hanya sekadar mengingatkan kita akan keseimbangan alam yang sudah terancam. Apalagi, beberapa waktu lalu Ibu Menteri Lingkungan Hidup sempat post di twitter tentang upaya menanggulangi sampah. Fotonya sampah menggunung. Hm..

Rasanya kementerian juga cukup bijak untuk juga menyosialisasikan penggunaan bioplastic, diet penggunaan plastic, dan menggunakan materi lain yang lebih eco friendly.

Sudah ada beberapa negara yang justru tegas melarang pemakaian tas plastik di negara mereka. Contohnya Rwanda.

D’oh.. Saya sih bersyukur deh kalau kita ikut berupaya mengurangi gundukan sampah di negeri ini. Dimulai dari yang sederhana dulu. Buat teman-teman, kalau ditanyain di minimarket, pakai plastik atau ngga, thanks ya, kalau kalian bilang, “Ngga usah, makasih, Mas. Saya udah bawa tas sendiri!”

Yuuk, usaha dari yang terkecil, dimulai dari diri kita sendiri! 
DIET PLASTIK, YUUKK..!! ;-)
Img: kopipakegula.wordpress.com

Comments

  1. kereen...semoga kesadaran ini menular ke banyak orang...sayangi bumi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. Setuju Mba Retno.. Sayangi bumi. :)

      Delete
  2. semoga jejak pengurangan sampah banyak yang mengikuti

    ReplyDelete
  3. Ini harus disebarkan ya mba...bagus sekali untuk pembelajaran supaya kita sadar anak-anak kita yang akan jadi korban bila tidak mulai memelihara bumi...TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas. Sama2. Thanks udah mampir :)

      Delete
  4. Kereeeeeen
    Setuju banget sama bawa kantong belanja sendiri
    Saya sudah melakukannya sejak lama, tapi masih sering dipandang aneh sama orang-orang. Bahkan pernah di sebuah supermarket, mbak kasirnya bilang, "plastiknya gratis kok bu!"
    Lha ini bukan masalah bayar atau tidak, memang saya gak mau numpuk plastik aja dirumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Putu, bener banget! Iya, bukan soal charge kantong plastik yang sempat berlaku itu..

      Delete
    2. Salut sama Kevin Kumala dan kawan2. Semoga bioplastik ini segera menyebarbke pelosok Indonesia ya agar penggunaannya dapat maksimal mengurangi dampak buruh dari sampah plastik yg sdh terlanjur banyak di bumi Indonesia.

      Delete
  5. Di tempatku kepedulian kayak gini masih kurang Mbak. HArus ada penggerak ya biar warga berubah. Harus ditularkan dengan segera ini Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Woro-woro denda Rp500 ribu udah dianggap nonsense.

      Delete
  6. Saya selalu salut dg org2 yg peduli lingkungan. Termasuk dg Kevin Kumala ini. Semoga bioplastik cepat tersebar d seluruh Indonesia agar hasilnya smkin nyata untuk mengurangi dampak lingkungan sampah plastik yg ditimbulkannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Rin. Semoga bioplastic jadi salahsatu solusi yang diandalkan kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, kalau memang hanya itu satu-satunya pengganti plastik, ya. :)

      Delete
  7. Ini masalah kebiasaan dan konsistensi yaa, mba Rosa.

    Saya kalau habis dapet penyuluhan (karena sahabat saya memiliki usaha di bidang jasa edukasi Bank Sampah) bisa tuuh...ideal.

    Ke mana-mana bawa tas belanja sendiri.
    Sama misahin sampah jadi (paling tidak) 3 jenis.


    Tapi kalo uda lama gak ketemu, suka lupa lagi..
    Balik ke kebiasaan lama.


    Apalagi sekarang plastik makin sedikit. Kerasa pas mau ngasih alas tong sampah..heeuheuu...cari-cari plastik gede (yang sekarang langka di rumah kami).

    Jadi ga ideal lagi deeh...keadaannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, setuju tuh, Mbak Lendy! Harus terus digosok semangat nyiptain habit positif. hehe..

      Delete
  8. Saluuut banget sama Kevin Kumala, semoga sehat dan panjang umur ya beliau.
    Aku termasuk yang berusaha buat ngurangin penggunaan plastik, tapi saya perhatikan masih saja boros -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. memang, udah harusnya diadakan penggantian bahan baku buat berbagai wadah disposable dari plastik.

      Delete
  9. Salut banget dengan orang2 yang konsen dengan lingkungan. Semoga gerakan ini bisa menyebar kemanapun

    ReplyDelete
  10. Saya sekarang kalo belana selalu bawa keranjang belanjaan sendiri. Udah banyak juga kan totebag yg berseliweran (bener ga sih nulis totebagnya). Jadi, cara termudah yg bs saya lakukan cuma ini. Untuk sampah rumahan mash bingung, krn kalo ga pake plastik, bingung nyatuinnya gimana :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tote bag ya, Mba Sri. Itupun udah lumayan mengurangi. Mungkin kalau Mba telaten milah sampah, yang kering (ngga terurai kayak plastik, kardus) dikasih ke pemulung. Yang basah alias terurai dikubur di pekarangan. Lebih bagus lagi kalau ada petugas yang ambil sampah kita dari gentong sampah, ya. Jadi sampah plastiknya berkurang.

      Delete
  11. sangat kreatif sekali ya dalam mengolah dan mandaur ulang bahan plastik menjadi suatu kerajinan tangan yang sangatlah indah dan mengurangi sampah sampah yang dapat merusak alam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Dik. Daripada jadi sampah mendingan jadi barang berharga. Mereka (komunitas bank sampah itu) keren! :)

      Delete
  12. selain gak peduli dengan sampah pelastik seperti ini, kebiasaan buruk buang sampah sembarangan juga masih melekat di masyarakat kita ya mba, kadang suka jengkel sendiri liat orang buang sampah sembarangan di jalan apalagi sampah pelastik kaya botol bekas air mineral, dll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener, Yes. Ngga kapok ngeliat banjir di mana-mana.

      Delete
  13. Kusudah membawa tas kain kemana mana. Belanja juga bawa tas kain. Lebih murah dan nyaman dibawa kemana mana. Lebih aman dan sehat bagi lingkungan. Go green

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut sama kamu, Mas Don! Biar jadi contoh ya, buat temen travelingnya.. Amin...

      Delete
  14. Pernah denger ceritanya, yang membuat bahan baku singkong jadi plastik. Keren banget ya inovasinya. Penasaran pengin nyoba dan megang, tekstur plastiknya jadi seperti apa yaa.. Dan kira2 bisa dimakan gak ya.. Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tuh, Mba Noni! Kan tulisannya selalu "I am not plastic".
      Kayaknya ada deh, youtubenya, Kevin Kumala minum air dari gelas, yang isinya kantong bioplastic yg kira-kira sudah dihancurkan. :D

      Delete
  15. Plastik memang salah satu sampah yang cukup merepotkan, karena tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Waktu mengurainya pun lama sekali. Inovasi bagus dari bioplastik semoga bisa sampai digunakan oleh umat manusia di seluruh dunia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin! Nah itu dia, Mas Adi. Sepertinya masih butuh dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah (KLHK). Kalau kantong oxium yg dipakai beberapa retail terkenal masih belum memadai (belum terurai sendiri).

      Delete
    2. Seandainya semua pihak bisa lebih peduli dengan penggunaan plastik, bumi ini pasti akan bersih dan nyaman ya....

      Delete
  16. nah ini dia.. selalu ada inovasi dan salut dengan mereka yang betah dan konsisten dengan kampanye seperti ini...dan ga sekadar slogan. Saya sekarang sudah belajar mba murni, kalau belanja bawa di warung ga pakai kresek, ke mall bawa tas sendiri. Nah yang belum itu misahin sampah kering dan basah. Biasanya yang dipisahin kalau dalam jumlah besar saja misal habis bersih-bersih,. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi, thank mba sudah mengingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut, Mba Ira tetap berproses! Dalam hal ini ketelatenan memenej sampah kering dan basah di rumah. Toh improvement tetep ya, Mba.. :)

      Delete
  17. Semoga semua pihak bisa lebih bijak menggunakan plastik ya...supaya keseimbangan alam tetap terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan ya, Mba Nurul. Dan semoga yang kafenya, tokonya, masih pakai produk disposable (sekali buang) bisa mengupayakan produk yang ramah lingkungan. Thanks udah mampir, Mba ;)

      Delete
  18. Saya tiap ke pasar atau ke supermarket jg bawa tas kanvas. Btw saya penasaran bioplastik itu yg seperti apa ya bentuknya? Beda kah dgn plastik yg bisa hancur sendiri yg biasa kita dpt di minimarket?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, Mba April.. Bioplastic kelihatannya sama seperti plastik oxium yang dipakai beberapa swalayan yang katanya akan hancur, tapi ternyata tidak secepat itu (bbrp artikel meragukan proses penguraian oxium).
      Meskipun kelihatannya sama, bioplastic itu cepat terurai, dan kalau terbuang di pekarangan rumah, misalnya, dia akan jadi hancur kompos bbrp bulan saja.
      Bakalan asik kalau pemerintah ikutan dukung penggunaan tas bioplastic (plus gelas, sedotan, sendok sekali pakai dll). Bumi lebih terjaga.
      #AkuCurhat :D

      Delete
  19. Emang bener sih beberapa tahun yang lalu waktu saya tinggal di Bali, pantai-pantainya emang mulai banyak plastik dan kotor.
    Keren tuh bioplastic. Moga aja bisa jadi solusi. Moga aja yg dukung makin banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Termasuk pemerintah yang ikutan dukung ya, Jon? Bukan cuma moril tapi juga pengadaan dan pemberlakuan, maunya. Subsidi kalo kemahalan, gitu. Masa' UKM di Bali ada yg bisa, yang lain kagak. :D

      Delete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular posts from this blog

Cara Membuat Blog SEO Friendly

[Parenting] Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi dan Bagaimana Menyikapinya

Review Film: LION