[Blogger Event] Ngobrol Bareng Ketua MPR RI: Membumikan dan Membunyikan Pancasila

HAI! 1 Juni belum lama ini kita memperingati lagi hari lahirnya Pancasila. Rasanya cukup melekat, ya. Kemarin banyak sekali warganet, alias pengguna aktif internet, yang ramai-ramai memasang foto profile menggunakan template bertagar #SayaPancasila dan #SayaIndonesia. Inspirasi dari ucapan Presiden Joko Widodo.

Sepertinya mereka yang memasang foto itu sedang memproklamasikan bahwa mereka pro pancasila. Pro Indonesia. Tapi, saya malah melihat ini dampak viralnya sebuah gerakan online. Pakai twitbon itu, lho! hehehe...

No offense! :) Mungkin saya salah. Sebenarnya di dalam diri kita Pancasila itu masih eksis. Cuma kita memang selama ini diam-diam saja. Gara-gara terlalu banyak dikasih solusi "sing waras ngalah", mungkin.

Well, meskipun memasang foto tadi belum apa-apa untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila, aksi itu jelas sekali menunjukkan, sebenarnya Pancasila nggak hanya milik Anda. Nggak hanya milik saya. Nggak hanya milik dia. Pancasila tetaplah landasan filosofis kita bersama.

Netizen Gathering Jakarta - Ngobrol Bareng Ketua MPR RI
From: IG Tanti Amelia
Nah.. Senin 5 Juni yang lalu, saya bersama blogger-blogger menghadiri undangan sebuah event di Gedung Nusantara, kawasan MPR/DPR RI, dengan tajuk  "Ngobrol Bareng Ketua MPR RI".

Hadir Bpk Zulkifli Hasan - Ketua MPR RI, Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono dan juga Ibu Siti Fauziah, S.E,M.M - Kepala Biro Humas Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

Acara dipandu Mbak Mira Sahid dan Mbak Rharas dari Kumpulan Emak Blogger. Terima kasih untuk undangannya, Mbak!

Pak Zul pada kesempatan itu mengatakan, Pancasila sangat erat dengan nilai-nilai gotong-royong, kekeluargaan, dan kasih sayang, di antara kemajemukan budaya Indonesia.

Hm.. Emang bener sih, ya? Rasanya saya seperti mendengarkan kembali pelajaran PMP saat sekolah dulu. Pelajaran yang kesannya dulu sepele, tapi terbukti sekarang begitu penting untuk dijaga dan diulang-ulang kembali. Harapan kita, orang-orang yang cinta Indonesia, tentu agar Pancasila tetap kokoh sebagai filosofi bermasyarakat dan bernegara.

Berawal dari Kepentingan Sekelompok Orang
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keadaan bangsa kita yang majemuk. Kita sudah berpuluh-puluh tahun merdeka bersama-sama, kan? Bahkan sebelum resmi merdeka, kita sudah sadar akan keberagaman yang kita jumpai dalam hidup bersosial. Termasuk ketika masuknya pengaruh budaya luar melalui interaksi dagang, bangsa kita dikenal sebagai ramah dan suka menolong.

Saat ini, tak bisa kita sangkali memang bangsa kita sedang mengalami ujian. Kita tidak boleh bodoh lagi, dengan membiarkan keadaan yang tidak bersahabat sampai menggerus nilai-nilai Pancasila. Justru sesungguhnya, dengan mengandalkan nilai-nilai Pancasila, kita mempererat hubungan bersaudara kita. Bertetangga kita. Bersolidaritas kita. Jangan sampai intoleransi yang mengambil alih hubungan kita dengan tetangga atau saudara kita.

Kita tentu masih ingat, dahulu jika kita atau tetangga kita sakit, atau mengalami musibah, kita bukanlah bangsa yang miskin empati. Malahan kadang terasa terlalu ramah. Di hadapan budaya lain yang cenderung individualis.

Kalau budaya kitacseolah-olah makin individualis, saya rasa itu hanya keterpaksaan karena kita memang sukanya menghindari perselisihan paham. Sekarang akibat kesenjangan itu kita perlu melihat nilai-nilai kesamaan di antara kita, dan menyatukannya kembali demi hidup bermasyarakat dengan golongan manapun.

Kalau kita pernah seolah tercerai-berai karena pilihan yang berbeda, sebenarnya banyak di antara kita yang juga bingung dengan situasi yang sempat panas dihembus-hembus berbagai pihak. Dalam keadaan seperti itu, kita harus bermain lebih cantik, yaitu dengan tidak menyerah, tanpa menyerukan pesan bernada pesimis atau negatif. Baik melalui dunia maya di genggaman ponsel kita, ataupun di rumah dan lingkungan pekerjaan kita.

Bangsa ini butuh orang-orangnya yang masih optimis dan mencintai 4 pilar bangsa Indonesia; Pancasila, UUD '45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Bangsa ini harus bersatu. Setuju? :)

(Ehm.. tiba-tiba jadi inget... mangan ora mangan sing penting ngumpul.)

A post shared by Murni Rosa (@murnirosa) on

Move On!
Itu salah satu yang disampaikan Pak Zul. Move on dari suasana Pilkada (yang bahkan terlalu tersentralisasi di Ibukota). Masa pilkada sudah lewat.

Merasa ngga sreg memang wajar saja. Kalau kita masih merasa tidak sreg, sebelum curhat atau mengupload status lebih baik kita berpikir dulu; apakah itu bermanfaat? Sama seperti Ahok yang mengikhlaskan dakwaan yang sebenarnya nggak bener, dan justru menyuruh pendukungnya pulang ke rumah masing-masing dengan aman.

Opini kita berpengaruh, lho! Belajar dari kasus seperti Buni Yani, Dwi Estiningsih dll yang tak disangka menjadi viral dan bikin heboh. ;)

Pelajaran penting, untuk lain kali kita perlu lebih dewasa. Mudah-mudahan ada proses dalam hati kita semua, jadi jangan jadi bangsa yang berpikiran kerdil.

Mari hayati dan amalkan lagi Landasan Filosofis bangsa Indonesia: Pancasila!
Well, tanggal 1 Juni lalu saya juga mendapat pesan Whatsapp dari teman, yaitu Butir-butir Pancasila. Jadi keinget, dulu saya sangat kesusahan menghafal dan jemu banget karena dalam sehari harus sudah hafal. Guru bilang, besok bakal disuruh maju ke depan kelas. Yup, waktu SD saya tidak sukses menghafal isi Butir-butir Pancasila itu.

Tapi kalau kita baca isinya, Butir-butir Pancasila sebenarnya mudah dipahami. Dan memang, semestinya jangan cuma dihapal. Lebih penting untuk dipahami dan diamalkan. Nilai-nilai luhurnya berisi kebaikan-kebaikan yang sebenarnya naluri kita sudah memahaminya, yaitu mengutamakan nilai kemanusiaan, dan kemasyarakatan.

Note: Salut sekali sama tim yang menyusun Butir-butir Pancasila, menjadi Manual Book dalam hidup bermasyarakat yang adil dan beradab.

Masih Indonesiakah kita?

Setelah sekian banyak jatuh bangun.Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk.Setelah sekian banyak tertimpa dan tertempa.


Masikah kita meletakkan harapan kita atas kekecewaan?Persatuan diatas perselisihan.Kejujuran diatas kepentingan.Dan musyawarah diatas amarah.Ataukah keIndonesiaan kita telah pudar?Dan hanya tinggal slogan agama.


Tidak, karena mulai kini, nilai-nilai itu kita lahirkan kembali.Kita bumikan dan kita bunyikan dalam setiap jiwa dan raga manusia Indonesia.
Dari Sabang sampai Marauke kita akan lebih banyak lagi, senyum ramah dan tegur sapa.
Gotong royong dan tolong menolong.Kesantunan bukan kehancuran, tetapi kebiasaan.
Dan kepedulian menjadi dorongan.

Dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita kan melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh. Berkeringat karena semangat dan bekerja keras karena dibayar.
Ketaatan menjadi kesadaran dan kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan.
Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati.
Dan keguguran mereka adalah keguguran Indonesia yang sesungguhnya.

Narasi pengantar artikel saya diatas itu harus stop sekarang.
Kita jangan diam, amati cermati sekitar kita.
Mereka diam bukan karena sekedar karena mereka tertekan, takut mendobrak adat.


Jangan jadi bystander karena dengan begitu kita terlibat atas kematian teman kita yang di-bully kakak senior.
Beranilah bela yang benar dan lakukan yang benar mulai hari ini.


Dan Netizen pun bertepuk...
Puisi yang dibacakan Bpk. Ma'ruf Cahyono tadi, setelah berbicara menggantikan Bpk Zul Hasan, bagus. Saya suka. Semoga Anda yang membaca suka juga, ya.

Kiranya harapan yang disampaikan Bpk. Ma'ruf Cahyono: membumikan dan membunyikan Pancasila tidak hanya sekadar wacana. :)

Yuk, Netizen dan kita semua, sudah waktunya bersikap arif dalam bermedia sosial. Jangan terlalu reaktif. Kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk hal ini.

Cita-cita mempertahankan Pancasila sangat luhur, agar Indonesia dan 4 Pilarnya tidak terkoyak. Agar generasi penerus kita dapat hidup tenteram di tanah sendiri. :)

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah puasa buat teman-teman Muslim semua!

Comments

  1. menurutku sekarang bukan makin individualis. Nature-nya orang Indonesia itu ramah dan suka membantu. Lihat dari crowd funding yang ada aja orang mau membantu. Tapi yang ada kurang peduli dengan lingkungan yang dekat dengannya. Jadi dia bantu orang di tempat lain tetapi (mungkin) ga ngerti bahwa tetangganya butuh bantuan. that's my two cent

    salam,
    helenamantra dot com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bisa juga, sih, Mba. Hanya nilai-nilai kebersamaan sepertinya berkurang. Bisa karena faktor kesenjangan atau perbedaan.
      Intinya sih, kita memang mesti lebih dewasa ya.
      Makasih ya atas pendapatnya, makasih juga udah baca, Mba Helena! :)

      Delete
  2. Semoga Indonesia selalu bersatu, aman. Nyaman, damai & sejahtera aamiin...
    Sedih bgt akhir2 ini banyak berita yang memcoba mengoyak persatuan bangsa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. Bener, Mbak Enny. Kita jangan sampai dipecah belah karena faktor yang ngga semestinya memecah belah. Makasih ya, udah mampir :)

      Delete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)