[Parenting] Ciri-ciri Bayi Alergi Susu Sapi dan Bagaimana Menyikapinya

Haloo... Well, sudah merupakan keinginan para ibu untuk bisa memproduksi ASI yang melimpah, agar si buah hati yang baru lahir dapat kenyang dan bertumbuh-kembang secara sehat. Namun faktanya, tidak semua ibu bisa...

Dalam event yang diadakan pada Sabtu 17 Juni 2017 lalu bersama Enfaclub, saya dan blogger lainnya mendapat pencerahan mengenai ciri-ciri bayi alergi susu sapi dan mengatasinya.

Selain itu, blogger yang hadir juga mendapat pencerahan mengenai teknik menulis ala SEO dengan narasumber Bpk. Parjono Sudiono, digital marketer yang sudah lama berkutat di bidang penulisan digital. :)

Baca juga: CARA MEMBUAT BLOG SEO FRIENDLY

Berikut yang berhasil saya liput. Simak, yuk!


Kenapa harus membahas alergi susu sapi?
Karena sebagian dari kita memang ada yang alergi. Dan alergi itu umumnya dibawa sampai dewasa. Jadi bagi yang alergi susu sapi memang tidak bisa mengonsumsi susu sapi, sebagaimana orang yang alergi seafood sebaiknya menghindari seafood. :)

Di sisi lain, belum tentu bayi dan anak yang bermasalah saat mengonsumsi susu sapi berarti mengalami alergi susu sapi. Suplementasi susu sapi memang kerap dianjurkan oleh dokter, terutama ketika produksi ASI sang mama masih kurang, atau si anak sudah waktunya disapih dan beralih ke susu sapi.

Tantangan bagi orangtua, ya? Sementara ibu perlu berusaha maksimal agar produksi ASI-nya memadai, yang perlu tetap orangtua pikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan nutrisi si anak yang tidak bisa ditunda. Kebutuhan itu harus terpenuhi agar si anak tumbuh sehat, cerdas dan berat badan bertambah sesuai usianya.

Tidak Semua Masalah Pencernaan Berkaitan dengan Alergi

Itu adalah tajuk dari event tersebut, yang dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama Enfaclub. Acara tersebut menghadirkan narasumber DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K), seorang Dokter Spesialis Anak yang berpengalaman sebagai Konsultan Gastrohepatologi Anak dan aktif di Klinik Tumbuh Kembang Tania Kids Center.

Tidak semua masalah pencernaan berkaitan dengan alergi. Jadi, masalah pencernaan dengan gejala yang khas tersebut (kolik) bisa juga disebabkan antara lain:
  • Belum matangnya saluran pencernaan anak
  • Cara memberikan susu yang masih belum tepat
  • Gangguan lain, seperti penyerapan karbohidrat, atau gas dalam usus sedang berlebihan.
  • Masalah hormon usus atau gangguan flora pada usus.

Memangnya apa saja ya gejala masalah pencernaan itu?
Dr. Ariani menjelaskan bahwa gejala gangguan sistem pencernaan itu antara lain:
  • Kembung
  • Sakit perut
  • Sering buang angin
  • Mual / muntah
  • BAB tidak lancar
  • Sampai rewel tanpa sebab yang jelas
Jika masalah itu tidak teratasi segera, dikhawatirkan itu bisa menyebabkan akibat jangka panjang, seperti:
  • Agresi
  • Hiperaktif
  • Cemas (anxiety)
  • Gangguan tidur
  • Migren
  • Alergi

Masalah Sistem Pencernaan pada Bayi

Pada sistem pencernaan bayi, Dr. Ariani menjelaskan bahwa lambung dan usus bayi dengan usia sekitar seminggu hingga 6 bulan masih kecil dan sedang dalam tahap berkembang. Selain itu produksi enzim sistem pencernaannya masih terbatas, dalam hal ini Enzim Enterokinase (mencerna protein) dan Enzim Laktase (mencerna laktose).

Lantaran kondisi belum matang itu, wajar jika si bayi sangat sensitif terhadap produk yang mengandung protein susu sapi. Hal ini memang tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai alergi. Namun orangtua perlu tetap waspada. Sebaiknya hindari produk susu yang menimbulkan gejala alergi. Reaksi (mirip) alergi yang dialami bayi tetap saja mengganggu bahkan membuat si bayi menderita.

Untuk keperluan energi dan nutrisinya, orangtua bisa beralih ke susu formula yang diproduksi untuk saluran pencernaan yang masih peka, misalnya susu Enfagrow A+. Susu Enfagrow A+ diproduksi dengan molekul protein yang dipecah lebih kecil.

Sementara untuk mengatasi bayi yang mengalami kolik (gejala gangguan pada saluran cerna), Dr. Ariani memberi tips, di antaranya dengan:
  • Kompres hangat pada perut
  • Urut pada badan
  • Mandi dengan air hangat
  • Exercise dengan menggerakkan tungkai bayi dengan lembut. Tujuannya untuk mengurangi gas pada perut. 


Mengamati dan Memperhatikan Adalah Modal Orangtua

"Alergikah anak saya, Dok?" mungkin itu yang ingin Anda tanyakan ke dokter anak Anda perihal gejala yang timbul. Alergi memang dapat menyerang siapa saja. Mungkin orangtua si bayi juga mengalami alergi terhadap susu sapi?

Jika ya, hal ini berpotensi menurun ke anak, jadi sangat mungkin anak mengalami alergi yang sama. Meskipun belum tentu juga. Sama halnya jika Anda mengalami alergi seafood, sementara kakak atau adik Anda baik-baik saja.

Seperti apakah ciri-ciri alergi susu sapi pada bayi? Gejala alergi secara umum dapat terjadi pada:

1. Kulit
Misalnya gejala gatal-gatal, atau yang lebih berat ruam kemerahan pada sebagian kulit, atau hampir semua kulit. Cara mengatasinya tentu dengan menghindari alergen alias pemicu alergi. Jika anak menangis terus, coba perhatikan apa yang kira-kira menjadi keluhannya. Apakah gatal pada punggung, yang luput dari pandangan mata?

2. Saluran Cerna
Misalnya gejala muntah, gumoh, bahkan menangis terus (merintih) karena ternyata si bayi mengalami kembung, sakit perut hingga buang gas terus menerus dan BAB tidak lancar. Waktu pup, kita juga perlu mengamati ciri-ciri fesesnya, dari warna sampai bentuknya. Karena kondisi kotoran menandakan seperti apa kondisi pencernaannya, yang tidak bisa kita lihat secara langsung.

3. Pernafasan
Misalnya si kecil menangis terus karena ternyata pernafasannya mampet. Atau yang lebih berat, nafasnya terdengar keras, agak mengorok mungkin, sampai mempengaruhi seleranya minum susu atau makan makanan tambahan (jika usia 6 bulan).

Tapi yang perlu diperhatikan juga, terkadang ciri-ciri atau gejala alergi susu sapi yang muncul tidak serta-merta menandakan si bayi positif alergi. Melalui pengamatan yang terus-menerus, ada anak yang kecilnya mengalami gejala seperti ruam kemerahan ketika terkena debu, tapi seiring bertambahnya usia gejala itu ternyata berangsur hilang.

Contoh lain, misalnya si kecil mengonsumsi telur ayam kemudian badannya langsung merah-merah. Apakah itu berarti ia alergi telur ayam? Memang, sebaiknya kita menjauhi si anak dari mengonsumsi telur ayam. Faktanya seiring waktu, ketika si kecil sudah berusia 3 tahun diberi telur ayam, ternyata gejala alergi itu sudah tidak muncul. (Yang ini dialami keponakan saya.)

Gejala seperti itu tidak menandakan alergi, seperti yang biasanya menurun dari orangtua. Melainkan jaringan tubuhnya sudah semakin matang dan sempurna, sehingga yang dulu direspon sebagai alergen sekarang tidak lagi.

Jadi, mengetahui si anak alergi atau tidak memang memerlukan pengamatan dan mungkin repetisi dari keluhan tersebut. Biar bagaimanapun, orangtua perlu bijak dengan memberikan anak produk-produk yang sudah pasti aman. Maka sejak awal ibu perlu mencatat keluhan dan progress tumbuh-kembang anak dalam buku. Selain itu, dengan mengenal alergi yang mungkin Anda atau pasangan alami (jika salah satu ternyata alergi), akan mempermudah diagnosa.

Enfagrow A+ Solusi untuk Perut Peka si Kecil

Bpk. Nuh dari pihak Enfaclub juga menjelaskan, jika kita menemukan ciri-ciri bayi alergi susu sapi pada anak kita, kita bisa mengikuti Tes Alergi Susu Sapi di http://www.enfaclub.com/tesalergi-sususapi/, untuk semakin meyakinkan kita apakah bayi kita mengalami alergi atau tidak.

Bpk. Nuh menjelaskan dengan bahasa yang mudah mengenai masalah pencernaan bayi. Yaitu, usus bayi belum berkembang dengan sempurna. Belum rapat, jadi masih terbuka terhadap cetusan alergen. Sedangkan ukuran molekul protein susu termasuk berpotensi mencetuskan gejala alergi tersebut.

Tapi kabar baiknya, Enfagrow A+ sudah diproduksi dengan molekul protein susu yang sudah dipecah sehingga mudah dicerna. Plus probiotik, Enfagrow A+ makin ramah pada pencernaan anak Anda. Jadi dengan gentle care, Enfagrow A+ merupakan solusi untuk perut peka si kecil.


Comments

  1. Memang harus selektif ya, Mba dalam urusan makanan buat bayi. Untungnya banyak yg peduli dengan produk yg baik. Seperti enfagrow a+ gentle care 3 ini. ^_^

    ReplyDelete
  2. Noted " tidak semua masalah pencernaan berkaitan dengan alergi "... Kadang saking protektifnya kita sebagai orang tua, seringkali semua dikait kaitkan dengan alergi yaa... *aku banget itu mah... 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, wajar sih, Mak. Yang penting juga diperhatikan, dianalisa lagi, apa betul alergi atau antibodinya yang belum cukup kuat. Termasuk ikut ngisi kuesioner di link itu. hehe.. ;)

      Delete
  3. jadi kalau anak punya gangguan pencernaan jangan langsung panik kalau itu alergi ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak. Dijauhkan dulu aja dari makanan atau benda yang kita curigai biar jangan makin berat. Sambil terus dianalisa atau diskusi sama dokter anak. :)

      Delete
  4. Harus aware sama gejala ya biar bisa mencegah...

    ReplyDelete
  5. Jadi beda ya antara alergi dan masalah pencernaan. Harus tahu bedanya apa dan gimana ngatasinnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak Nurul. Kalau masih ragu tetap mesti hati-hati, tetap memperhatikan gejala dan konsultasi. :)

      Delete
  6. Bener bngt mba brguna bngt yes elergi buat anak2 utk jaga2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Sekalian diperhatikan apa kira-kira pemicunya, soalnya macam-macam alergen itu. :)

      Delete
  7. hmm.. bener juga sih ya, kalau soal pencernaan kita harus hati2 banget, apa lg sama anak kecil. makasii infonya ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak.. Iya mesti hati-hati. Salah dari awal langkah selanjutnya bisa salah terus.

      Delete
  8. Anakku jg ada alergi, turunan, tapi penyebabnya bukan susu krn selama minum susu sapi oke2 aja, aku blm tes sih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya bukan susu ya. Susu itu jenis konsumsi yang enak banget, bisa kita nikmati sampai tua baik dalam minuman maupun olahan lain, Mbak. hehe.. Jadi perlu diperhatikan aja apa alergi dari anaknya Mbak April.. biar bisa dihindari dan disiasati sebaik mungkin, gitu, Mbak.. :)

      Delete
  9. Emang ortu sih yang harusnya aware dan care sama anak ya mbak. Jadi bisa tidak langsung memvonis anaknya kena alergi hanya karena ciri-cirinya mirip. PAdahal itu bisa jadi cuma gangguan pencernaan ya kan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, Mbak Febri. Setuju banget saya :)

      Delete
  10. ngeri juga ya efek jangka panjang masalah pencernaan.bila tak diatasi

    ReplyDelete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)