Apa Pendapat Dokter Soal Kanker Payudara?

Hello All,

Apa kabar? Lagi agak rajin posting, nih. :)) Jadi, kemarin saya menghadiri event yang tepat banget, terutama buat kaum perempuan. Thank God! Event itu diselenggarakan oleh sebuah startup, islamic startup: AZZLAM.

Azzlam.com adalah sebuah media online muslimah, yang membahas mengenai berbagai topic seperti fashion, kesehatan, gaya hidup bahkan bisnis. Seperti kata sambutannya founder Azzlam.com, Mbak Melly, dengan melihat populasi Indonesia yang sebagian besar muslim, dan melihat perkembangan gaya hidup dan industri kreatif di Indonesia yang sedang berkembang, Azzlam dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pembaca dan pengguna internet akan berbagai informasi dan peluang bisnis dengan nilai-nilai syar'i.

Event BE A TOUGH WOMAN kemarin terdiri dari beberapa sesi Talkshow menarik, dengan topic yang penting banget. Yaitu sesi pembahasan tentang kanker payudara yang paling banyak terjadi pada kaum hawa (inget, laki-laki tetap ada kemungkinan), sharing mengenai entrepreneurship bersama beberapa entrepreneur perempuan, juga sesi Cooking Class yang asyik banget yaitu membuat kukis ;) Nastar Jagung dan kita bisa icip-icip. :)) Tentunya pada masing-masing bagian, Azzlam mengundang narasumber yang keren punya.

Apa Pendapat Dokter Soal Kanker Payudara
Dr. Arman Muchtar, SpB (Onk)
Talkshow Soal Kanker Payudara
Azzlam mengundang narasumber Dr. Arman Muchtar, SpB (Onk), dari RS Premier Bintaro yang sudah berpengalaman dalam menangani pasien kanker dari berbagai usia.

Sesi ini pas banget sama concern saya. Saya merasa, lagi-lagi diingatkan soal menjaga kesehatan. Pertama, walau kita tidak (merasakan) sakit apapun, yang pasti kita tetap perlu belajar, perlu tahu apa saja upaya yang perlu dipraktikkan agar selalu sehat. Right?

Dan kalau kita diam-diam ternyata merasakan kekhawatiran karena suatu benjolan atau perasaan yang tidak wajar, sebagai pasien kita perlu cerdas bertindak. Setuju, kan?

Dalam upaya pencegahan kanker, dalam hal ini kanker payudara, intinya Dokter Arman berpesan agar kaum perempuan harus menjaga keseimbangan kesehatan, dalam hal ini keseimbangan hormon. Karena faktor pemicu kanker payudara adalah hormon estrogen. Salahsatu caranya adalah dengan membatasi konsumsi makanan berlemak. (Hehehe... Biasanya perempuan menjauhi lemak gara-gara takut gendut, ya?)

Memang tidak semua perempuan 'berbakat' kanker. Tapi upaya pencegahan tetap perlu, dong... Memangnya siapa yang tahu dirinya berbakat atau nggak berbakat? Ya, kan? Sementara itu, sekarang malah sedang ngetrend diet keto yang me-minimize karbo tapi memaksimalkan asupan lemak. Hmm.. Kedengarannya bertentangan, ya? :)

Kita juga perlu peka mendeteksi kondisi tubuh sendiri. Jadi kita bisa segera tahu seandainya tumbuh benjolan yang rasa-rasanya nggak wajar. Seperti seorang ibu yang pernah ngobrol dengan saya waktu ngantri di poliklinik bedah beberapa bulan lalu. Jadi ceritanya ibu itu baru sukses operasi. Dan dia cerita ke saya, awalnya ia merasakan ada benjolan nggak wajar waktu mandi. Dari situ, ia segera periksa ke dokter. Tidak menunggu benjolan itu membesar atau merasakan sakit seperti yang dilakukan beberapa orang.

Jika kejanggalan benjolan itu ditemui pada stadium awal dan segera konsultasi ke dokter, dokter akan melakukan biopsi untuk mengetahui jenis kanker atau tumor tersebut, apakah jenis yang ganas atau tidak. Tapi, jika pasien baru konsul ke dokter waktu stadium sudah cukup tinggi (biasanya karena pasien tidak segera berobat, entah karena takut, nggak punya duit atau hal lain), kemungkinan besar tindakan yang dilakukan adalah pengangkatan payudara, untuk mencegah penyebaran sel kanker terlalu luas.

Sayangnya, dari cerita pengalaman dokter Arman menangani pasien-pasien wanitanya, keputusan mengangkat payudara (karena tentunya harus atas persetujuan si pasien) tidak selalu mudah. Faktor pasangan biasanya mempengaruhi. Kasian, saya pikir, kalau akhirnya sampai mengorbankan kondisi kesehatan si perempuan demi menyenangkan lelakinya yg "sehat". :|

Lalu, cara mendeteksinya gimana, ya? SADARI. Periksa Payudara Sendiri, dengan meraba secara melingkar.

Buat info, sel kanker payudara itu paling banyak menyerang bagian yang paling dekat ketiak. Jika sel kanker bertumbuh, alih-alih ke payudara sebelah, ia justru kebanyakan akan menyerang organ lain, yaitu hati, paru-paru, tulang iga, dan sekitarnya.

Ladies, ini giliran kita buat menjaga kondisi tubuh kita sendiri. Kesehatan kita sendiri. Pria juga, sih, sebenarnya. Bukan lantaran biaya pengobatannya yang mahal, atau lantaran tes mamografi itu sakit, tapi menyangkut daya tahan, dan kualitas hidup kita. Biasanya penanganan kanker memakan waktu lama, baik pengobatan sebelum dan sesudah operasi. Eh, yang mengenai tes mamografi sakit itu beneran, lho, menurut pengalaman pasien dokter Arman sendiri. Beliau sudah banyak menangani pasien kanker dari berbagai usia.

Banyak baca referensi yang dipercaya juga penting buat kita. Tubuh kita diatur oleh hormon-hormon, dan semakin tua terdapat ketidakstabilan yang mempengaruhi. Terlebih wanita yang sudah cukup dewasa namun tetap single dan tidak menyusui. (hmmm.. Like me?)

Well, buat info, untuk melakukan cek mamografi, usia pasien semestinya sudah cukup dewasa, sekitar 40 ke atas. Usia masih terlalu muda? USG, kata dokter Arman.

Sesi Tanya Jawab yang Seru
Sayangnya, di sesi ini saya terlalu enjoy sebagai pengamat. Haha! Maafkan daku, yang masih harus mengelola sikap, sebagai introver. Sadar koq saya, sifat mendem ini belenggu yang sedang saya usahakan untuk enyah. :D

Simply, dari bagian tanya-jawab ini saya dapat info lagi. Yaitu, dokter nggak menyarankan pengobatan alternatif  ataupun yang sering disebut herbal untuk menggantikan pengobatan medis. Itu bukan lantaran takut nggak laku. Penjelasannya adalah, sebelum dokter berwenang mengobati pasien, terdapat brevet atau janji pelayanan. Hal ini yang ia tekankan, bahwa dokter memang punya kewajiban melakukan yang terbaik bagi pasien dan ada konsekuensi tanggungjawab secara nurani dan terhadap gelar (pencapaian). Untuk beberapa case, sangat ada kemungkinan penggugatan jika terjadi keanehan penanganan keselamatan pasien. Sementara untuk herbal, beliau tidak menyarankan sebagai pengganti pengobatan medis karena dari sisi pertanggungjawaban kurang menjanjikan. Biasanya berdasarkan kesadaran pasien saja, berani mengambil risiko nyoba-nyoba alternatif. Sukses ya, bagus banget. Gagal? Pasien nggak bisa protes seperti protes ke dokter.

Ada juga penjelasan bahwa dari stadium awal ke stadium 4 itu butuh proses alias waktu. Nggak terjadi begitu saja, meskipun tetap saja, pengobatannya ya jangan ditunda-tunda. Hal ini dijelaskan dokter, karena di antara penanya ada yang bercerita bahwa, rekannya seolah-olah mengalami kenaikan stadium sepesat dan secepat itu.

Selesai sesi kesehatan, kamipun break sejenak. Berfoto, menanyakan sedikit lagi pertanyaan yang tadi terlupa sambil snacking. Beberapa teman blogger mendapat gift dari RS Premier Bintaro, karena tangkas menjawab pertanyaan dokter. (Next time i have to get one! Wkwkwk)

Talkshow Entrepreneurship yang Selalu Menarik
Selesai dengan topic kesehatan, kami beralih ke topic entrepreneurship dengan narasumber ibu Lenny pemilik koffie25_urbantea, ibu Tejasari dari Tatadana, dan Ibu Ety Tejalaksana dari Indonesia TIC.

Bisnis online ibu Tejasari. Sebenarnya bukan hal baru dari kisah perjalanan bisnisnya. Pemilik bisnis online yang juga seorang Islamic Financial Planner ini (at least saya nangkepnya demikian, dari pembeberan opininya) menjalankan bisnis onlinenya cukup simpel, dengan mempublish produk di media sosial. Prinsipnya, menggunakan social media adalah cara yang murah meriah. Patut dicontoh banget. hehe..

Oh iya.. Ada juga info mengenai Salon Muslimah Tewink yang menarik. Ya, meskipun saya bukan hijaber, saya suka ngeliat temen-temen muslim yang berhijab bisa dandan kece dan elegan. Apalagi bisnis ini membuka kesempatan kerjasama.

Nggak ada istilah selesai dalam belajar berbisnis. Bahkan kita butuh terus mendengar kesuksesan dari orang lain, untuk memacu semangat dan mengambil hal positif. Bukti nyata, nggak perlu bicara terlalu teoritis, orang bisa lihat sendiri buktinya. Membakar lagi semangat berkompetisi secara positif. Dan menurut ibu Lenny, produk yang bagus sudah memiliki konsumennya sendiri-sendiri.

Sebenarnya sesi terakhir dari event yang menarik ini adalah cooking class, oleh Mbak Lindawaty. Mungkin saya akan share resepnya pada postingan berikut, ya.. :D Tapi buat yang udah nggak sabar dengan resep-resepnya, silakan klik link Instagram dapur_lindawaty. :)

Thank you, Azzlam...! Sukses selalu untuk bisnisnya! 

Comments

  1. Wanita juga harus bisa berbisnis ya mba dan tekat yg kuat modal utamanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mbak Echi. Kalo udah niat jaman sekarang makin mudah. Mau dengan Pre Order juga bisa ngajuin ke supplier asal jaga kepercayaan. :)

      Delete
  2. Makasi udah datang ke acara Azzlam. Tulisan nya sangat entertaining:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih juga, Mbak Melly.. Acara kemarin seru dan infonya bermanfaat banget. :)

      Delete

Post a Comment

Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular Posts