Hidup Memang Butuh Keseimbangan


Keseimbangan. Mungkin karakter saya banyak dari temperamen plegmatis saya. Saya merasa tipe orang yang cenderung mencari kestabilan, meskipun kadang emosian juga. Jadi kalau dibuat kesal oleh siapapun, pelampiasan saya memang adalah umpatan (yang nggak perlu ditiru). Namun setelah itu saya biasanya memikirkan apa yang bisa saya kerjakan untuk mengatasi keadaan saya.

Saya percaya, siapapun pernah merasa terpuruk. Sayapun mengalaminya, dan pernah pula sampai merasa sebagai orang paling malang. Duh, rasanya nelongso pake buanget! Tapi gimana sikap saya kemudian?

Belajar dari Pengalaman
Pengalaman siapapun pastinya berharga, ya. Meskipun beda orang, beda gaya dalam mengatasi sesuatu.

Dari pengalaman saya sendiri, saya pernah sampai sakit menstruasi, hormon nggak stabil sampai nggak berhenti lumayan lama. Itu pertama kalinya saya dibilang dokter, bahwa saya stres, dan dia bilang saya harus membereskan masalah pikiran saya dulu. Karena keadaan saya saat itu adalah datang dari otak yang stres sehingga mengacaukan siklus hormon.

Memang, akhirnya dokter membantu saya dengan obat setelah USG. Namun, ucapan dokter membuat saya teringat tentang emosi berlebihan yang saya alami, sampai kepala saya sempat sakit.

Well, stres akibat khawatir berlebihan saat itu berawal dari pekerjaan. Saat itu, saya curiga seorang teman kerja berniat mengambil uang yang akan diberikan ke saya! Caranya? Memang ini bentuk prasangka buruk kepada orang yang belum terbukti. Well, stres itu saya alami memang sebelum uang itu dikirimkan.

Dan feeling saya yang cukup kuat saat itu tepat, selain didukung gaya hidupnya yang nggak terkendali soal pemakaian uang. Singkatnya, usahanya yang beneran sempat mencoba membodohi saya akhirnya memang gagal. Thank God! Tapi saya tetap merasa nggak nyaman bekerja...

Anyway, pelajaran yang saya ambil dari kasus sakitnya saya adalah, saya nggak bisa lagi membuat amarah dan kekhawatiran merajai suasana hati dan pikiran. Saya nggak mau membiarkan otak saya stres sampai menanggung sakit. Apapun sakitnya.

Makanya, sejak saat itu ketika kecewa, kesal, atau jatuh dalam kegagalan, lalu teringat untuk menjaga stabilitas emosi, saya sangat bersyukur. Saya jadi punya kesempatan untuk berpikir lebih tenang tentang solusi dan nggak berpusat pada ego lantaran sakit hati terus-terusan.

Yup, sebenarnya masih tetap ada alasan buat bersyukur dalam keadaan sepayah apapun. Duh, kalau lagi nggak ada masalah sih, ngomongnya mudah, ya? hehehe...

Tetap Tenang dan Waspada...
Selain jangan terlalu sedih atau marah, perasaan 'sedang di atas'  rasanya juga perlu diwaspadai. Sedang di atas angin, sedang tenar, sedang merasakan promosi dan sebagainya, semua itu bagi saya tetap membutuhkan skill untuk sanggup merespon dengan benar.

Seperti waktu dipuji orang lain. Contoh kecil: saya pernah tak tahan diri lalu merasa melambung. Tapi ternyata itu bukan respon yang bagus. Saya malu. Tapi beberapa waktu berselang, waktu mengingat lagi betapa noraknya saya, saya merasa masih beruntung. Pujian itu baru untuk sesuatu yang nggak benar-benar penting. Mulai dari situ, saya memang sempat nggak suka mendapat pujian.

Tapi ternyata, justru dari hal-hal yang kita nggak suka, kematangan itu bisa berproses. Saya jadi belajar merespon pujian atau hal kemujuran dengan lebih bijak, sebagaimana kita harus merespon ujian dengan dewasa.

Ternyata dari segala hal yang membuai; kenyamanan, kemenangan, kesuksesan, dan sebagainya, ujian juga tetap ada!

Mengucap Syukur & Tetap Usaha
Dari gereja, saya belajar merayakan syukur meskipun awalnya belum paham kenapa selalu ada ucapan syukur dan puji-pujian. Bukannya mengeluh karena hal yang nggak bisa saya miliki sementara orang lain punya, atau menerima pujian dengan sombong. Memperoleh berkat atau keberhasilan artinya mengucap syukur ke Tuhan sebagai wujud rasa tahu diri.

Selain diajarkan untuk rendah hati, kita juga diajarkan untuk selalu berusaha dan bukan mengeluh jika ingin mecapai sesuatu. Berikhtiar, istilahnya. :) Namun di tengah-tengah usaha, di antara masalah, dan di antara kemenangan-kemenangan besar-kecil yang kita dapat, mengambil hal positif sekecil apapun untuk disyukuri akan meningkatkan rasa percaya dan harapan yang positif. Begitu juga mengucapkan syukur dalam proses usaha, atau dalam keterpurukan, justru akan menambah kekuatan untuk makin sabar dan tegar.

Saya suka dan masih ingat dengan judul sebuah buku karya Julianto Simanjuntak: Seni Merayakan Hidup yang Sulit. Awalnya saya tahu Pak Julianto bersama istri melalui radio yang sering saya dengar malam hari. Mereka kalau nggak salah konselor keluarga dan sudah menghasilkan banyak buku bernuansa konseling.

Hehehe... jadi woro-woro, deh. Tapi beneran, meskipun belum pernah beli dan baca bukunya (hiks... udah lama banget, pengen, deh!) judul buku itu nancep di kepala! Hidup baik susah atau senang tetap ada seninya. Ada hikmah yang bisa dipetik. Dan justru, dari kesulitan-kesulitan kita bisa belajar nilai-nilai kehidupan yang bisa dimanfaatkan sampai kita tua.

Ngomong-ngomong, ada yang pernah baca buku itu? :)

*project #ODOPFEB18 - day 3

*Images all from gettyimages.

Comments