Ilmu di Sekolah, Mana yang Paling Berpengaruh ke Luar Sekolah?

Dulu bisa dibilang saya ada masalah dengan pelajaran favorit. Ya, kalau ngomong pelajaran favorit, mungkin kayak kenalan dengan seseorang yang kita sangka nyebelin, eh ternyata dia jadi sohib akrab. Gitu kali, yes?

Sebagai blogger, penulis konten dan penggiat MLM (please, jangan anti, ya...) sudah sewajarnya sih, kalau mata pelajaran yang terpakai di pekerjaan saat ini nggak cuma bahasa, tapi juga pengetahuan-pengetahuan umum.

Bahasa Indonesia 
Sebenarnya saya nggak menjadikan Bahasa Indonesia jadi pelajaran favorit juga, sih. Cuma lantaran di mata saya, sebagai murid yang nggak rajin (alias males, hehehe) pelajaran Bahasa Indonesia lumayan lebih mudah dibanding pelajaran matematika, misalnya.

Tadinya saya lebih menyukai menggambar. Tapi karena semenjak SMP pelajaran seni menggambar sudah bukan cuma praktik, saya mulai sedikit terganggu dan nggak nyaman menghafal teori.

Ternyata pelajaran Bahasa Indonesia lumayan terasa manfaatnya. Awalnya untuk mengirim surat lamaran pekerjaan. hehehe... Selanjutnya, kalau diminta atasan nulis surat proposal kerjasama dan sebagainya.

Oiya, saat itu saya sempat bekerja di wartel (dulu masih keren, lho, kayak Snapy gitu), merangkap staf penjualan kartu telepon, karena bos yang berpartner dengan Telkom sebagai distributor. Di sini kemampuan berbahasa yang pantas diperlukan. Komunikasi dulu belum pakai messenger, masih pakai telepon dan mesin fax. Dan konsumen yang datang (pengguna fasilitas) masih orang-orang kantoran yang rapih. Kebayang deh, gimana etika teleponan dan membantu konsumen mengirim faximile ke kantor-kantor.

Seterusnya, nggak lama kemudian baru saya kenalan dengan internet dan bagaimana email-emailan dan sebagainya, sampai ketemu mesin blog. :D

Nggak Nyangka Bahasa Inggris
Bahasa Inggris dulu baru diajarkan di sekolah waktu masuk SMP. Haha! Beda banget ya, sama sekarang! Dan bahasa Inggris sempat jadi hantu yang menakutkan buat saya. Setelah saya pikir-pikir, sebelnya saya sama pelajaran ini karena cara ngajar beberapa guru sebelumnya nggak mempermudah saya.

Belum lagi, saya sempat mengalami down di kelas 2 SMP, sampai nggak suka dengan hampir semua pelajaran terutama yang gurunya nyebelin. Saya baru mulai suka Bahasa Inggris semenjak kelas 3 SMP, waktu wali kelas saya sendiri adalah guru Bahasa Inggris yang canggih. Bu Ummy bisa menjadikan murid semales saya jadi lebih tekun, dan bahkan punya rasa penasaran dengan ilmu yang dia sampaikan! Nggak cuma biar bisa jawab, tapi emang merasa ingin bisa. Bahkan segala tenses saya sampai hafal deh, saat itu.

Yang lucunya lagi, begitu di SMA, saya ketemu lagi dengan guru Bahasa Inggris yang kepayahan mengajar karena sebagian besar murid, teman sekelas saya, ternyata bersikap acuh karena merasa Bahasa Inggris itu nggak menarik minat mereka.

Img: Gettimages.com
Asiknya, lulus SMA saya punya banyak waktu luang buat jalan-jalan ke The British Council Library di S. Widjojo center, kawasan Sudirman. Dulu jadwal kerja shift memungkinkan saya ambil off hari apa saja, yang penting seminggu sekali. :)

Di pekerjaan waktu masih jadi tenaga penjualan, kemampuan bahasa Inggris sangat berguna buat saya. Begitu juga waktu saya harus melayani customer bule yang mau kirim fax dan menelepon di wartel.

Di era sekarang yang ternyata sudah berubah pesat, saya memutuskan beralih jadi jadi penulis freelance, selain menjalankan bisnis pribadi (MLM tadi).

So far saya menerima job menulis dalam Bahasa Indonesia. Sementara bahasa Inggris saya pergunakan untuk tahu berita atau info melalui website berbahasa Inggris. Nggak hanya demi menguatkan materi tulisan Bahasa Indonesia, tapi sebagai  referensi buat saya sendiri juga.

(Belum pernah tes TOEFL. Jadi kepengen. Tapi tetep sih, harus belajar lagi sebelum tes. Terakhir saya kursus udah lama banget. :D)

Nggak Cuma Bahasa, Deh...
Saya mulai jadi content writer beberapa tahun belakangan ini, kira-kira. Sebelumnya saya lebih menekuni dunia penjualan yang butuh ilmu komunikasi juga.

Sebagai lulusan SMA yang nggak nerima subject entrepreneurship kayak sekolah jaman now, saya menimba pengetahuan produk dan prinsip-prinsip bisnis tentu dari leader di perusahaan. Sementara mengenai ilmu komunikasi buat saya praktikkan, saya cari dari sumber lain, di antaranya buku-buku.

Ribet? Ya, namanya minat, nggak terlalu saya rasakan juga. :D Makanya, beruntunglah anak sekolah jaman now yang sudah mulai diberikan pendekatan-pendekatan mengenai kewirausahaan.

Tapi alih-alih ngarep jadi kayak generasi jaman now yang diperlengkapi dengan wawasan usaha (mungkin nggak semua sekolah juga, sih), saya jadi merasa curiga. Yup, curiga bahwa pendidikan life skill (termasuk entrepreneurship) sebenarnya ada, tapi bukan selalu sesuatu yang dikemas dalam kurikulum.

Guru-guru boleh nyebelin. Ada yang ngajarnya bikin males duluan (maklum deh, masih ABG, masih belum nyadar dan suka ngeyel). Tapi selama kita ada di lingkungan sekolah, kita belajar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan sosialisasi.

Pendidikan Moral Pancasila (sekarang PPKN)
Ternyata pendidikan moral nggak cuma penting demi ketenteraman hidup bersama aja, lho. Melainkan, dengan tahu aturan yang diberlakukan sesuai nilai Pancasila, kita jadi dewasa terutama dalam kehidupan sosial.

Segala tindakan yang dikait-kaitkan dengan sila-sila dalam Pancasila memang dulu dibuat untuk menata sikap kita jadi orang yang teratur dan nggak liar. Tapi di era keterbukaan ini ternyata banyak orang yang lupa dan jadi semaunya. Saya sendiri merasa perlu mengulang lagi biar nggak lupa begitu aja. Jadi kita tetap bisa kreatif, yang penting masih dalam koridor. :)

*project #ODOPFEB18 - day 4

Comments

  1. Wow, bilingual donk jadinya. Keren lho, jadi content writer dan freelancer pulak. Predikat yang diimpikan oleh kebanyakan blogger. Bunda juga suka sama bahasa Inggris tapi tetep gak berani ikut test toefl takut ketauan be-o-de-o-ha-nya, wkwkwkk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Freelancer atau fulltime sama-sama ada kerennya koq, Bun.. :) iya, kudu belajar juga sayanya, sebelum tes, Bun. :)

      Delete

Post a Comment

Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)