Reuni itu Kayak Kosmetik

Twenty20.com
Menurut saya, reuni itu kayak kosmetik. Cocok-cocokan juga. Soalnya dari sekian jumlah undangan reuni yang disebar, pasti deh, ada yang dateng tapi ada juga yang nggak dateng. Alasannya pun banyak. Ya karena udah jauh tinggalnya, karena malu secara belum sukses, pernah punya masalah pribadi (belum move on) dan lain-lain, bahkan karena belum dikaruniai anak. (Duh.. emangnya kenapa, sih?)

Sayapun  dulu sempat berpikir nggak mau dateng kalau diundang. Tapi buktinya, beberapa tahun ini saya sudah ikutan 3 kali acara reuni! Haha... Well, kenapa kesannya kayak doyan, ya? Dan kenapa dulu berpikir nggak mau datang?

Sebenarnya saya datang bukan lantaran hobi. wkwkwk... Jujur saja,di reuni SMP, awalnya saya memutuskan datang karena sempat merasa nggak enak menolak ajakan saat itu. Saya juga pernah 1 kali mengabaikan undangan reuni SMP.  Dan feeling saya sepertinya benar, reuni itu kayak kosmetik. Mau mahal atau murah, tetap cocok-cocokan. :D Reuni SMP berikutnya baru beberapa bulan yang lalu, saya datang. Dengan lokasi di sekolah itu juga, suasana nostalgic justru jadi benar-benar terasa, bukan hanya silaturahmi ketika semuanya sudah berubah.

Reuni SD saya hadir 2 kali sesuai undangan reuni. Saya memang bukan tipe yang rame sih. Tapi yang mendorong saya untuk datang awalnya memang teman. Biar bagaimanapun, meskipun saya lebih banyak merasa awkward (tolong dimaklumi ya), teman buat saya tetap penting. Entah kapan, mungkin suatu saat nanti kita akan butuh teman, baik untuk bisnis, atau sekadar supaya nggak merasa sepi. Masih sadar koq, saya tetap mahluk sosial. hehehe...

Begitu juga Reuni Lintas Angkatan SMP waktu itu. Selain karena teman yang panitia (saya pernah nggak datang sih, sekali), saya perhatikan yang bakalan datang kali ini banyak teman-teman yang cucok. Hehehe.. Maksudnya cukup kenal dan enaklah. Reuni Lintas Angkatan. Udah kebayang kan, ramainya? Ketemu dengan lulusan dari berbagai angkatan yang kebanyakan nggak kenal. Beda dengan reuni SD yang bukan RLA, temennya rata-rata memang sudah tahu. Tapi di RLA ini, saya ternyata ketemu dengan istri dari sepupu saya, lho! :)

The Power of WAG?
Kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin karena the power of WAG ikutan andil di sini. Ya, kan beda sama persiapan reuni jaman dulu. Dulu, kalau bukan via telpon rumah, SMS (biar murah karena banyak yang dikontak), apa lagi kalau bukan surat via pos ngirim undangan? Dulu, tanpa ikutan kumpul di rumah si A, kita agak kesulitan buat tahu situasinya, gimana asiknya, dateng atau nggak usah aja, kalau nggak ada yang ngobrolin gosip terbaru, entah lewat telpon rumah atau SMS-an. Minimal email deh, sebelum jaman messenger. :D

Tapi kenyataannya, meskipun teknologi udah mempermudah silaturahmi, masih ada saja teman yang nggak kelihatan di acara reuni. Kita memang tetap harus menghormati apapun alasan mereka.

Sebelum menyanggupi ajakan teman, saya menyimak dulu bagaimana percakapan di WAG. Meskipun sayanya justru silent reader. Harapan saya, suasana yang tergambar di WAG cukup memberi gambaran, kira-kira seperti apa chemistry dan arah kekompakan teman-teman yang dominan di chat room.

Akhirnya, saya memang ngumpul dengan beberapa orang teman yang cukup okelah. So, kalau ditanya soal kesan, jawabannya campur aduk, kali, ya? Ya kepingin datang, ya ragu, ya happy juga. :D

Manfaat Reunian
Sementara kalau ditanya soal manfaatnya ikut reuni, menurut saya banyak. Yang paling jelas, di usia kerja, bahkan di umur segini di mana koneksi makin dibutuhkan buat business opportunity dan pertemanan, yang jelas kita memang harus bisa mengendalikan cara berpikir kita. Alasan saya datang kan bukan sekadar nyenengin orang lain, dalam hal ini teman. Saya juga ingin dapet ‘sesuatu’. Jadi ya, ketika memutuskan datang dengan hope for the best aja.

Saran saya buat yang ragu-ragu sih, ambil manfaat positifnya saja. Toh, reuni itu hanya sehari, kan?

Dan kalau khawatir ucapan teman yang ngga peka, misalnya karena kamu belum punya anak atau belum nikah nikah juga, berusaha supaya jangan baper sebelum berangkat! Toh, kemungkinannya kecil. Kecil sangat. Maksudnya kemungkinan teman yang nyeplos nggak pakai perasaan.. Malah, kemungkinan kamu akan lebih sibuk haha-hihi begitu di lokasi?

Soal yang belum berhasil secara financial, berpikir positif saja, bahwa dengan hadir kamu bisa meluaskan networking! :) Syaratnya memang satu: jangan jadi orang malas. Ketemuan di event seperti reuni sebenarnya kesempatan untuk membangun personal branding. Misalnya kamu sedang punya usaha jualan atau jasa apapun kan bisa kamu tawarkan dengan OK. Siapatau dengan bertukar nomor WA atau saling mengingat lagi keakraban yang dulu, pada akhirnya ada yang jadi langganan tetap? Gitu aja, sih... :)

*project #ODOPFEB18 - day 2

Comments

  1. Dari WAG alumni, kadang bisa ngelihat sich, bakal kek mana, kalau ketemu di reuni, meski gak 100 persen yakin. Paling ndak, dari chat di WAG bakal ketahuan bedanya sifat-sifat masa lalu dan masa sekarang.

    ReplyDelete
  2. paling senang kalau reuni sama temen2 yg memang betul2 dekat

    ReplyDelete

Post a Comment

Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)