Rilis Emosi Negatif, Yuk!

Di postingan kali ini, ceritanya mau ngebahas gimana cara saya merilis emosi negatif hasil persinggungan dengan orang lain yang kadang rasanya seperti membombardir, nih. :D

Sederhana saja. Tanpa berdamai, saya sudah gila. Terkesan emosional, ya? :D Saya bukannya ingin curhat soal 'masalah apa aja yang sedang saya rasakan,' karena memang lagi ada masalah. Cuma memang sih, sepertinya masalah interpersonal adalah bagian dari hidup siapapun. Married or single. Tua atau muda.

Dan bukan hanya itu. Menyelesaikan masalah secara personal, meskipun awalnya dipicu orang lain itu juga nggak kalah penting. Seenggaknya kita praktik menguasai diri sendiri, sebelum ada klarifikasi dengan orang lain. Dengan begitu, kalau masalah yang sama muncul lagi, kita sebisa mungkin nggak membawa serta masalah yang sudah di waktu lalu. What's done is done.

Hm.. Emangnya bisa nggak, ya? Ya dicoba aja dulu.. :D

Kita Butuh Jarak dan Ruang
Ruang beneran, yang artinya menyendiri sejenak, entah dengan menjauh, berbeda ruang, atau kalau perlu jalan-jalan. Lately, saya lebih memilih mengurung diri dengan menyetel radio, melupakan sejenak emosi. Ngemil sih, tetep.

Kedengerannya gampang, ya? Well, tentu saja pada praktiknya ‘makan ati’ itu pasti ada. Tapi mungkin belajar menerima keadaan yang ‘makan ati’ itu perlu juga pelan-pelan. Mau nggak mau. Habis...?

Apalagi kalau mau nggak mau, kita lagi di lingkungan kerjaan atau dalam kumpulan, di mana kita bakalan nggak bisa menghindar begitu aja.

Tapi kalau saya dalam suatu kumpulan sih, sebisa mungkin nggak ketemu supaya suasana dingin dulu. Memahami kelemahan diri, tepatnya.

Jangan Ngedumel
Apalagi mengumpat kata-kata kasar, atau kotor. Memang, terus terang untuk yang ini butuh perjuangan ekstra banget, sih. Dogma ‘itu nggak boleh’ seringnya nggak ampuh, terutama kalau panas hati sudah sempat menguasai. Hehehe… rebellious. Biasanya sih diikuti sikap nggak sabar, lalu marah-marah, entah dalam hati, atau diekspresikan kalau lagi nggak ada orang. Duh...

Saya amat-amati, sikap marah-marah itu menunjukkan bahwa saya ingin dipahami oleh orang lain. Tapi sayangnya (atau untungnya?), saya sudah cukup old buat maklum, nggak semua orang itu (atau semua orang itu nggak) memahami maunya saya. Jadi di saat tertentu memang lebih pas kalau saya acuh saja, cuek, atau nangis aja deh...

Jurus pamungkas saya biasanya tarik nafas dalam, buang pelan-pelan, sambil menyendiri, minum teh, mikirin yang enak-enak. Habis, ngeri juga ngebayangin bahwa kondisi kesel ini ujung-ujungnya bikin saya sakit (pusing, stres, hormon ngga stabil, etc...).

Masih Bisa Diselesaikan?
Bisa nggak bisa, harus bisa. Minimal kalau bukan secara resmi sama-sama menyatakan clear, ya diri sendiri yang berdamai duluan.

Kadang penyelesaian terjadi tanpa solusi, seperti karena ego masing-masing saja yang terganggu. Kalau sekiranya perlu diselesaikan, tentunya segera menyelesaikan lebih baik. Memulai saying sorry bukan berarti kita yang take over semua kesalahan, koq. Namun dari situ kita dapat kesempatan mengklarifikasi.

Yang penting, kalau saya nggak salah, saya nggak menuduh diri sendiri. Dan kalau memang saya salah, saya perlu mengevaluasi diri.

Cari Pengaruh Positif Sebanyak-banyaknya
Kapanpun itu, entah lagi ada masalah atau nggak, energi positif punya fungsi menyeimbangkan bahkan mengalahkan kekuatan negatif. Kalau bisa kita mendetoks diri dari pengaruh negatif. Tapi justru segala pengaruh negatif itu jadi PR yang cukup besar bagi yang biasa baperan.

Dan justru jika orang dengan tipe baperan berhasil menguasai diri, ia menang banyak! Kalau mengutip kata bible, orang yang menguasai dirinya itu seperti orang yang menguasai kota. By the way, bukan ngajarin, lho. Saya sendiri masih perlu banyak belajar, sih di sini. hehe..

Untuk mencari pengaruh positif, biasanya tontonan lucu dan segar lumayan mengurangi ketegangan di kepala. Jadi pas lagi kesel saya nyari pengaruh positif seperti nonton komedi. Apalagi sekarang saya lagi sering nungguin sitcom OK JEK di Net. Nonton di TV lumayanlah, daripada ganggu teman yang capek juga pulang kerja.. Mood mereka juga siapatau lagi lelah? Mendingan atasi sendiri dulu, hehehehe...

Oya, selain tontonan, pengaruh positif dari teman, baca buku dan merilekskan diri dengan stretching dan menikmati minuman juga sebenarnya membantu, lho. Jangan terlalu lama menyimpan masalah, keluarkan bersama hembusan nafas...!

*Images from pixabay.com

*project #ODOPFEB18 - day 1.

Comments

  1. Iya banget, kadang kalo hati lagi ga menentu tontonan yang menghibur bisa menghibur diri juga.

    Btw salam kenal ya Mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, Mbak Hanie... Seneng bisa saling kunjung, yaa.. :)

      Delete
  2. Setuju! Menyendiri sejenak dan cari energi positif sebanyak-banyaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Ani. Harus pinter-pinter milih pengaruh positif :)

      Delete
  3. Melilpir ke kamar dulu, atau ke kamar mandi, kalau anak bikin kesel. Itu jalan terbaik supaya enggak ngomel apalagi ngedumel. Nah, mending ajak anak nonton OKJEK bareng saja kan, biar ketawa bareng, ya, kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya juga tuh. Ke anak jangan sampai menimbulkan luka batin. Kasian daripada dianya salah nangkep. :)

      Delete
  4. Replies
    1. Noted, Mbak Mey.. Yang negatif pinggir-pinggirin aja :))

      Delete
  5. Kalau pikiran dan hati lagi kurang bersahabat, biasanya aku milih menyendiri.
    Kerasa nyaman ambil tindakan begitu ... daripada tersulut emosi yang merugikan pikiran dan kesehatan jangka panjang.

    Salam kenal, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, Himawan. Makasih masukannya, saya setuju. :)

      Delete

Post a Comment

Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular Posts