Love For Sale - Kisah Tentang Kesepian yang Disajikan dengan Apik

love for sale - Gading Marten
Dari Kompas

"All good movies make us thinking."

Love For Sale. Drama satire yang mengupas masalah orang jaman sekarang. Khususnya orang-orang dari kalangan menengah yang biasanya bisa dibilang "invisible" hingga nggak menemukan sosok ideal; sosok yang diinginkan, atau sosok yang mendekat. Tak ayal, di sini kita juga akan melihat kisah jodoh menjodohkan, alias mat comblang yang udah umum.

Masalah kesepian, dan masalah status memang sudah jadi masalah umum. Tapi sepertinya, bagi Richard kesepian adalah masalahnya, sementara status single adalah masalah orang sekitarnya. :)) Yup, masalah Richard adalah pertanyaan "kapan kawin?" dari orang sekitar, dan makin banyaknya teman yang meninggalkan status melajang.

Yang menarik buat saya, film ini membahas versi cowoknya, dan yang sudah kepala 4 pulak. Menarik, karena di sini kamu akan melihat ekspresi dan respon pria "berumur" menghadapi kekurangannya, atau katakanlah masalahnya (karena nggak semua orang merasa being single itu "kekurangan").

Kayaknya akan beda cara meresponnya kalau yang ada di posisi Richard adalah perempuan, atau pria dengan usia masih 30-an ke bawah; yang lebih ekspresif dan meledak-ledak. Di film ini, Richard A. Wijaya nggak begitu.

Style alias cara berpenampilan Richard di sini juga beda dengan pria lain di kisah serupa, di mana kebanyakan kisah tentang pria lajang dewasa itu biasanya cowoknya ganteng-ganteng tapi ambisius terhadap karir, atau paling ekstrim punya masalah orientasi seksual. Di sini, Richard bukan tokoh gay ataupun pria keren dan ambisius yang sedang di puncak karir. Tapi penampilannya justru oldschool banget, seolah nggak ada effort dari sisi penampilan untuk mengubah keadaannya.

Di film ini, Andibachtiar sukses men-direct Gading jadi Richard seutuhnya. Jauh dari karakter Gading di panggung, atau di film Gading yang lain. Di film Love For Sale, saya jadi melihat karakter laki-laki yang cenderung datar, tapi seolah kebaca pikirannya yang galau karena makin sering nasehat soal nikah yang datang. Ekspresinya natural, bisa 'bercerita' di balik ketenangan wajahnya yang sebenarnya dag dig dug waktu harus segera dapat partner jalan ke pernikahan temannya.

Sinematografinya bagus. Semua tampak 'dekat' dengan kehidupan kita sendiri. Termasuk setting lokasi lingkungan dan rumah tinggalnya, dan desain interiornya. Dengan piringan hitamnya yang mengalunkan musik The Mercy's, dan kura-kura peliharaannya. Menggambarkan tipikal Richard yang orang rumahan banget. Tapi bukan berarti nggak update.

Tentang Arini. 

Well, sosok yang diperankan Della inilah yang akhirnya jadi pusat pikiran Richard. Tadinya saya nggak pengin cerita banyak tentang Arini, karena sepertinya makin mengumbar spoiler. Namun memang di sinilah persoalan gender diperlihatkan. Kalau kisah-kisah yang sudah umum kan, cewek ngejar cowok, minta kepastian hubungan karena faktor umur dsb. Nah, sekarang kita akan menyaksikan kebalikannya.

Kamu perlu lihat.

Arini bisa jadi sosok yang diinginkan banget seperti cowok yang begitu ditanya soal keseriusan hubungan eh, ngilang. Arini jadi bagian dari pikiran Richard yang selama ini nggak banyak mikirin cewek kecuali gara-gara status. Ya, memang ada yang dilupakan Richard ketika bermain-main dengan hati.

Soal ending. 

Bagi yang bikin cerita, apa mungkin agak susah ya, sampai dibuat seolah 'gantung' begitu? Tapi, intinya memang, film yang bagus itu ending ceritanya juga ngajak penontonnya mikir. Simak deh kalimat di akhir yang jadi suara hatinya Richard. Dalemm.

Dan yang bikin mikir itu ya, memang karena cerita yang diangkat di film ini memang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sebuah kisah atau alur hidup yang makin mendewasakan. Makanya, film ini enak ditonton oleh siapapun yang sudah dewasa.

Note: Jangan harap nonton film ini ada cerita lucu-lucuan seperti film Susah Sinyal. Ada sih unsur humornya, cuma menurut saya nggak sebanyak itu.

Sangat disarankan agar jangan nonton barena anak-anak. Selain nggak asik nyimak, juga nggak pantes. Khusus 21 tahun ke atas.

Well, gimana film ini menurut kamu yang udah nonton? Monggo, dikomen!

Comments

  1. Saya sendiri jadi ragu jika ini film dewasa atau 21 keatas, ah film di negeri kita kan terlalu banyak sensornya.
    Tapi saya jadi penasaran ingin nonton juga.

    ReplyDelete
  2. Sepertinya alur ceritanya menarik ... penonton digiring untuk berpikir setelah nonton.

    Aku suka film alur seperti itu, ngga mudah ditebak.

    Kira-kira ada adegan apa sih,kok batasan usia nontonnya lebih dari film biasanya, 17 tahun ya kak ?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. Iya ya, mengenai pembedaan itu mungkin bisa cek di link https://bit.ly/2GFW1CT Mas. But simply, secara keseluruhan memang nilai edukasi buat film kategori usia 17 sedikit beda dari film untuk usia 21.

      Delete

Post a Comment

Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)

Popular Posts